setelah baca Midnight Sun...

Posted by Dear My-Blog Labels:


Baru-baru ini aku baru saja membaca Midnight Sun Chapter 1-12 versi Indonesia (yang bisa kamu download di sini dan itu sangat menjelaskan segalanya : Pikran Edward yang tidak masuk akal (menurutku) di buku-buku sebelumnya. (oke, sekali lagi, aku berharap saat ini ada mesin yang dapat menuliskan kata-kata yang aku pikrkan saat ini yang --tentu saja--menyembur tak beraturan.)
Oke, efek kata-kata novel mulai keluar.
Mulai dari mana? Mungkin dari… mmhh,pertama kali Edward mencium bau Bella di kelas biologi. AKU BENAR-BENAR TIDAK MENYANGKA DIA SUNGGUH-SUNGGUH MEMIKIRKAN UNTUK MEMBUNUH BELLA. Ingat satu adegan Eclipse dimana Bella mengatakan --atau lebih tepatnya memikirkan—Aku tahu bahwa bau darahku - begitu manis baginya daripada darah orang lain, benar-benar seperti anggur di samping air untuk pecandu alkohol— dan menurutku itu sama sekali tidak mewakilkannya. Jauh, jauh lebih dari itu. Karena bau darah Bella selalu membakar tenggorokan Edward bagai api yang tak kunjung padam.

Kemudian saat Edward pertama kali datang ke rumah Bella, lebih tepatnya kamarnya, aku bisa merasakannya. Betapa tidak akan ada orang di dunia yang sanggup mencintai orang lain dengan perasaan sedahsyat itu. Gila. Aku saja meneteskan air mata saat membacanya. Tak peduli ada adikku di belakangku. Walau air mata itu –tak bisa di sebut air mata kesedihan—mengalir tanpa sebab.
Dan kita perlu sekali lagi mengingat bagian di buku Eclipse saat Edward bertanya
“apakah kau tidak tau seberapa pentingnya kau bagiku, Bella? Tidakkah kau mempunyai gambaran yang cukup betapa aku mencintaimu?” dan Bella menjawab “aku tahu betapa aku mencintaimu” “kau membandingkan satu pohon kecil dengan seluruh hutan” .
Dan aku tahu: ia tidak main-main kawan.
Sulit untuk percaya bahwa Bella benar-benar mencintai Edward setelah aku membaca Midnight Sun. kurasa aku harus membaca ulang Twilight sekali lagi agar aku yakin Bella benar-benar mencintai Edward. Dan kalu aku tidak cukup yakin, aku tidak akan rela seumur hidupku. Hahahaha…
Oh, dan satu hal yang harus kau percaya, dan membuatku sangat kaget : Jessica Stanley adalah orang yang kejam. Kejam. Kata yang cukup tepat. Atau picik?? Whatever…
Dan, pelayan di restaurant di Port Angeles cukup membuatku kesal. Selebihnya, tak ada yang terlalu penting untuk di perhatikan. Perhatianku fokus ke Edward dan Bella. Tapi jujur saja, lebih mudah melihat Bella dari sudut pandang Jacob daripada Edward. Tetapi sangat menyenangkan bisa mengetahui isi hati dan pikiran Edward.
Haaaaaaah… itu bukan postingan yang panjang kurasa, tapi tidak pendek juga (cukup membuat jari-jari ku pegal). Tapi lepas dari semua itu, aku setuju dengan kesimpulan akhirku :Edward dan Bella saling mencintai dengan cara mereka masing-masing.
See you on the next posting guys…

2 comments:

  1. Qouwamuna Alannisa

    benar-benar ter-influence oleh bahasa novel..yaya sangat XD

  1. Dear My-Blog

    hahahaha.. namanya juga ani..

Post a Comment